Siapakah saya

SIAPAKAH SAYA?


Lagu yang berjudul Who Am I? [Siapakah Saya?] karangan Mark Hall dari kelompok musik Casting Crowns, dimulai dengan kalimat demikian: “Siapakah diri saya, sehingga Tuhan segala bumi ingin mengetahui nama saya, ingin merasakan luka yang saya alami?” 
Dalam lagu ini, Hall membandingkan hidup kita dengan “bunga yang cepat layu, yang muncul hari ini dan lenyap keesokan harinya … seperti setitik uap air di udara”. Ia merenungkan, “Apabila kita mengerti betapa kecilnya kita sebenarnya dan betapa luar biasanya Allah, maka kasih Allah akan menjadi lebih besar bagi kita.”  Dengan demikian teringatlah kita akan kisah Daud dalam Mazmur 8. Saat ia merenungkan langit, bulan, dan bintang, ia merasa takjub oleh Allah alam semesta yang menciptakan dan menopang semuanya itu. Dalam perasaan kagum, ia melontarkan pertanyaan, “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?” (ayat 5). 
Mengapa kita menjadi objek kasih, perhatian, dan pemikiran Allah? Dalam lagunya, Hall menjawab pertanyaan itu dengan: “Bukan karena siapa saya, namun karena apa yang telah Engkau lakukan; bukan karena apa yang telah saya lakukan, namun karena siapa Engkau.” 
Siapakah Allah? Dia adalah kasih. Apakah yang telah Allah lakukan? Dia memberikan Putra-Nya yang tunggal Yesus untuk mati bagi kita dan membayar hukuman dosa kita (1 Yohanes 4:7-9). Tidak mengherankan apabila kita ingin berseru bersama sang pemazmur, “Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (Mazmur 8:2,10)
ALLAH MENGASIHI KITA, BUKAN KARENA SIAPA KITA , NAMUN KARENA SIAPA DIA
Salam hormat@yoelgiban

Pewarta bukan ditawarkan

Pewarta Bukan yang Diwartakan!
Yohanes 1:19-28

Menjadi populer adalah impian hampir semua orang. Karena popularitas adalah sesuatu yang dianggap mampu memberikan berbagai kenyamanan sehingga harus diraih dengan cara apa pun! Bagi Yohanes Pembaptis, menjadi populer bukanlah tujuan hidupnya. Tujuan hidupnya adalah menyerukan pertobatan dan membuka jalan bagi kedatangan Mesias.

Apa yang dilakukan Yohanes Pembaptis membuat dirinya makin dikenal banyak orang. Dan orang-orang Yahudi mengutus para imam dan orang Lewi untuk menyelidik tentang siapa Yohanes Pembaptis (19). Mereka bertanya, “Apakah engkau Mesias?” Ia pun menyangkalnya. Tidak puas dengan jawabannya, mereka mulai mengajukan beberapa nama yang memiliki kehormatan dan karisma di mata orang Israel, “Eliakah? Atau seorang nabi yang akan datang?” Semua dugaan itu disangkal oleh Yohanes Pembaptis (19-22). Pikir mereka, kalau Yohanes Pembaptis bukan siapa-siapa mengapa ia melakukan baptisan (25-26)? Lalu, ia menegaskan bahwa dirinya adalah suara yang berseru-seru di padang gurun (23). Ia hanyalah sarana yang dipakai Allah untuk membawa bangsanya bertobat dan menerima kedatangan Juru Selamat.

Sebenarnya, situasi saat itu memungkinkan bagi Yohanes Pembaptis meraih popularitas. Karena ada sekelompok massa yang percaya dan menghormatinya. Namun, bukan itu yang Yohanes lakukan. Ia tetap menempatkan Yesus sebagai inti pemberitaannya. Di sini, Yohanes adalah pewarta, bukan yang diwartakan.

Jangan bangga dengan diri sendiri jika orang lain mengelu-elukan karya dan kehadiran kita. Ingatlah, di balik semua pewartaan dalam ucapan, laku, dan kerja kita ada Yesus Kristus yang harus selalu diutamakan. Jangan kita menyombongkan diri karena kemampuan kita yang mengundang decak kagum orang di sekitar kita! Jangan kita mengubah peran pewarta menjadi yang diwartakan!

Doa: Tuhan, mampukan kami untuk tidak menyombongkan diri, sebaliknya terus-menerus mengagumi karya besar-Mu dalam diri kami. [RS]

Sahabat baik untuk orang lan

Sahabat Baik untuk Orang Lain
Efesus 6:21-24

Kita memiliki berbagai hubungan persaudaraan. Hubungan persaudaraan itu bukan saja dalam kaitannya dengan saudara kandung laki-laki atau perempuan, namun juga persaudaraan di luar itu. Ikatan tersebut biasanya diikat oleh kesamaan dalam hal tertentu, baik hobi atau hal lainnya, yang juga dapat lintas usia. Brotherhood di kalangan bikers contohnya. Hubungan persaudaraan biasanya akan kuat secara emosi saat dua orang melewati masa sulit bersama-sama.

Surat Paulus kepada jemaat Efesus memang tidak bersifat pribadi. Dalam tulisannya, kita dapat melihat bahwa Paulus menempatkan dirinya sebagai sahabat bagi orang lain. Paulus tidak sedang membicarakan dirinya, malahan ia memperkenalkan Tikhikus (21). Di bagian akhir surat Efesus ini, Paulus mendorong kita juga menjadi sahabat, seperti Tikhikus, yang mengasihi Kristus dan Paulus.

Tikhikus tidak mementingkan diri dan rela diutus ke jemaat Efesus untuk menjadi berkat dan menghibur jemaat di sana (22). Tikhikus adalah sahabat yang memberkati, baik bagi Paulus dan jemaat. Tikhikus telah membuktikan kasihnya sebagai seorang sahabat yang menemani Paulus dengan setia dalam perjalanan misinya yang ketiga (bdk. Kis 20:4).

Sahabat yang baik merupakan orang yang dapat dipercaya. Paulus percaya kepada Tikhikus bahwa ia akan menceritakan semua yang dialami Paulus. Paulus tidak meragukan kesetiaan Tikhikus bahwa ia tidak akan melebih-lebihkan atau mengurangi hal yang seharusnya diceritakan. Paulus pun yakin Tikhikus akan menghiburkan hati jemaat Efesus. Dan Paulus menutup surat dengan berkat dari Tuhan (23-24).

Mungkin kita pernah kecewa terhadap seorang sahabat. Kisah persahabatan Paulus dan Tikhikus seharusnya memberikan nilai baru yang menyegarkan. Kisah ini mendorong kita berdoa dan bergumul lebih dalam lagi tentang persahabatan dalam Kristus.

Doa: Tuhan, ajarku menjadi sahabat yang terbaik agar orang di sekitarku lebih mengenal Engkau. [JS]

Sahabat baik untuk orang lan

Sahabat Baik untuk Orang Lain
Efesus 6:21-24

Kita memiliki berbagai hubungan persaudaraan. Hubungan persaudaraan itu bukan saja dalam kaitannya dengan saudara kandung laki-laki atau perempuan, namun juga persaudaraan di luar itu. Ikatan tersebut biasanya diikat oleh kesamaan dalam hal tertentu, baik hobi atau hal lainnya, yang juga dapat lintas usia. Brotherhood di kalangan bikers contohnya. Hubungan persaudaraan biasanya akan kuat secara emosi saat dua orang melewati masa sulit bersama-sama.

Surat Paulus kepada jemaat Efesus memang tidak bersifat pribadi. Dalam tulisannya, kita dapat melihat bahwa Paulus menempatkan dirinya sebagai sahabat bagi orang lain. Paulus tidak sedang membicarakan dirinya, malahan ia memperkenalkan Tikhikus (21). Di bagian akhir surat Efesus ini, Paulus mendorong kita juga menjadi sahabat, seperti Tikhikus, yang mengasihi Kristus dan Paulus.

Tikhikus tidak mementingkan diri dan rela diutus ke jemaat Efesus untuk menjadi berkat dan menghibur jemaat di sana (22). Tikhikus adalah sahabat yang memberkati, baik bagi Paulus dan jemaat. Tikhikus telah membuktikan kasihnya sebagai seorang sahabat yang menemani Paulus dengan setia dalam perjalanan misinya yang ketiga (bdk. Kis 20:4).

Sahabat yang baik merupakan orang yang dapat dipercaya. Paulus percaya kepada Tikhikus bahwa ia akan menceritakan semua yang dialami Paulus. Paulus tidak meragukan kesetiaan Tikhikus bahwa ia tidak akan melebih-lebihkan atau mengurangi hal yang seharusnya diceritakan. Paulus pun yakin Tikhikus akan menghiburkan hati jemaat Efesus. Dan Paulus menutup surat dengan berkat dari Tuhan (23-24).

Mungkin kita pernah kecewa terhadap seorang sahabat. Kisah persahabatan Paulus dan Tikhikus seharusnya memberikan nilai baru yang menyegarkan. Kisah ini mendorong kita berdoa dan bergumul lebih dalam lagi tentang persahabatan dalam Kristus.

Doa: Tuhan, ajarku menjadi sahabat yang terbaik agar orang di sekitarku lebih mengenal Engkau. [JS]

Peperangan Rohani

Peperangan Rohani
Efesus 6:10-20

Alkitab menjelaskan bahwa kehidupan Kristen itu tidak adem ayem saja, tetapi penuh peperangan dan gejolak. Setiap anak Tuhan pasti mengalami cobaan dan cobaan itu dapat dilihat sebagai ujian dan peperangan rohani.

Nas ini menjelaskan peperangan rohani yang dikaitkan dengan kehidupan orang Kristen dan bagaimana menang dengan mengandalkan kuasa Tuhan (10-11). Setiap peristiwa yang dialami orang Kristen semuanya merupakan peperangan rohani. Peperangan kita adalah melawan penguasa angkasa (12). Karena itu, Paulus mendorong orang Kristen untuk mengambil seluruh perlengkapan senjata Allah untuk mengadakan perlawanan dan tetap berdiri sampai akhirnya (13).

Paulus mulai dengan menguraikan ikat pinggang kebenaran dan baju zirah keadilan (14). Kebenaran dan keadilan di sini merupakan kebenaran dan keadilan Kristus yang diterima oleh iman tatkala kita percaya (bdk. Ef 4:21). Di samping itu, perlengkapan lain dihadirkan untuk orang Kristen agar dapat memenangkan peperangan rohani, yaitu kasut kerelaan memberitakan Injil (15), perisai iman (16), ketopong keselamatan, dan pedang Roh (17). Lalu, Paulus menutupnya dengan senjata terakhir, yaitu doa dan berjaga-jaga (18). Paulus pun minta didukung dalam doa (19-20). Ia menggunakan doa sebagai kekuatan rohaninya.

Semua perlengkapan ini menjamin orang Kristen akan menang dalam peperangan rohani jika ia sungguh bergantung kepada Allah dan menggunakannya. Orang Kristen sejati pasti akan mengalami peperangan rohani dalam hidupnya. Dengan bersandar kepada kuasa Allah, niscaya kita pasti menang. Karena Allah tidak membiarkan orang Kristen berperang sendiri dan kalah. Sebaliknya, Allah menyertai akan mereka. Bahkan, Allah sendiri berperang bersama dan untuk kita.

Adakah kita mengandalkan kuasa-Nya dalam hari-hari kita? Atau, kita memperhitungkan Tuhan pada hari Minggu saja?

Doa: Tuhan, sertai kami dalam peperangan rohani setiap hari. [JS]

Tuhan hadir dalam relasi ketaatan

Tuhan Hadir Dalam Relasi Ketaatan
Efesus 6:1-9

Tuhan itu Mahahadir dan Mahakuasa. Pernahkah kita bertanya seberapa besar kekuasaan dan pemerintahan Allah itu hadir dalam hidup kita, baik dalam keluarga dan pekerjaan kita? Sejauh mana hal tersebut menyatakan kehadiran Allah untuk menjadi kesaksian di tengah saudara-saudara seiman, maupun tidak seiman dengan kita?

Nas ini menegaskan implikasi kuasa Tuhan dalam hubungan dengan keluarga dan pekerjaan kita, baik sebagai anak dan orang tua, atau atasan dan bawahan. Anak-anak diperintahkan untuk menaati orang tua dalam Tuhan. Ayah yang mewakili status orang tua diminta untuk mendidik anak-anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

Para hamba diperintahkan untuk taat seperti kepada Kristus sendiri dan para tuan diperingatkan untuk tidak memandang muka. Semuanya di bawah perintah dan otoritas Tuhan. Dialah Tuhan atas keluarga, jabatan yang kita miliki, dan lainnya.

Kehadiran Tuhan di tengah segala aspek hanya dapat dimaknai sungguh-sungguh jika kita percaya dan mengikuti perintah-Nya dan membiarkan Dia memegang kendali atas semua peran dan fungsi yang ada dalam hidup kita

Sesungguhnya, perintah Allah di sini adalah demi kebaikan manusia itu sendiri. Allah sedang membangun nilai dan tatanan yang teratur dalam dunia yang berdosa. Dosa sudah merusak struktur yang benar dan Allah membangun ulang struktur tersebut dalam perspektif Kerajaan Allah. Dengan demikian, Allah menghendaki setiap orang Kristen menghayati dan menghidupi nilai Kerajaan Allah dalam segala aspek, peran, relasi, dan fungsinya dalam dunia yang penuh dosa. Inilah Kerajaan Allah yang hadir dalam dunia, yaitu melalui ketaatan umat-Nya.

Allah menuntut ketaatan kita dalam segala aspek. Bagaimana wujud kekristenan kita hari ini di tengah keluarga, pekerjaan, dan lainnya? Adakah kita menghadirkan Allah dalam segala aspek hidup kita?

Doa: Tuhan, ajar kami menghadirkan-Mu melalui ketaatan dalam segala aspek hidup kami. [JS]

Rahasia Hidup suami Istri

Rahasia Hidup Suami Istri
Efesus 5:22-33

Keharmonisan hidup suami istri dalam rumah tangga menjadi suatu hal yang sangat langka, mengingat maraknya perceraian di mana-mana. Alkitab mengungkapkan kunci dalam memelihara keharmonisan rumah tangga ini.

Suami istri yang harmonis sangat ditentukan oleh bagaimana pasangan itu mendasarkan perkawinannya dalam kasih Tuhan. Dalam perkawinan, suami adalah kepala bagi istrinya. Karena itu, istri harus tunduk kepada suaminya, seperti kepada Tuhan (22). Mengapa istri harus tunduk kepada suami? Dalam ayat selanjutnya dikatakan bahwa karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat (23).

Hal yang setara dengan itu, suami tidak boleh semena-mena terhadap istrinya. Suami harus mengasihi istrinya sebagaimana Kristus mengasihi jemaat (25-27). Suami pun harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri. Artinya, tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri (28-29).

Wujud kasih seorang suami terhadap istrinya bukan hanya menyediakan kebutuhan materi saja, tetapi juga menuntun dan membimbing istri dalam kehidupan rohaninya agar taat dalam beribadah kepada Tuhan.

Sebagai orang percaya, mari kita membina rumah tangga atas dasar kasih Kristus agar berkat Tuhan berupa kebahagiaan dan keharmonisan yang penuh dengan damai sejahtera. Paulus menyebut hal itu sebagai rahasia yang besar. Ini menunjukkan, kunci kebahagiaan setiap keluarga Kristen ada dalam prinsip yang diuraikan Paulus di atas.

Hal ini tampak sederhana, tetapi untuk menjalankannya tidaklah mudah. Kekuatan dan sukacita Allahlah yang akan meneguhkan setiap keluarga.

Berkat di balik rahasia ini juga besar, yaitu keindahan tertinggi dalam hidup adalah keluarga yang berbahagia dalam Tuhan. Inilah kunci keharmonisan keluarga Kristen. Adakah engkau bahagia dan puas dengan keluargamu? Sudahkah rahasia besar ini terbentuk dan hadir dalam keluargamu?

Doa: Tuhan, berkati rumah tangga kami oleh kasih-Mu yang memberi bahagia. [MT]

Tetap Terbatas

tetap terjagaTetap Terbatas
Efesus 5:1-21

Hidup manusia baru yang telah mengalami penebusan Kristus adalah kehidupan dalam terang. Terang itu tampak dan terlihat mata. Terang itu juga meniadakan kegelapan. Di mana ada terang, di situ tidak ada kegelapan. Sebaliknya, terang dan gelap tidak dapat bersatu dalam satu tempat secara bersamaan.

Paulus mengingatkan hidup anak-anak terang harus berbeda dari hidup anak-anak gelap (3-6). Ia mengakui: “Memang kamu dahulu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu, hiduplah sebagai anak-anak terang” (8). Orang Kristen memiliki kisah lama, tetapi ia hidup dengan status yang baru.

Paulus berkata, “Jangan kamu berkawan dengan mereka” (7), yang berarti “ambil bagian (partakers)”. Ayat ini bukan berarti bahwa orang Kristen tidak boleh berteman sama sekali dengan orang yang berbeda iman. Hal yang hendak Paulus katakan adalah mendorong orang Kristen menjadi terang yang menghasilkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran (9), yang mencerminkan karakter Yesus Kristus (2), yakni hidup yang mengucap syukur (4), dengan mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani atas nama Tuhan Yesus (19-20).

Kehidupan anak gelap berbeda dengan kehidupan anak terang. Karena itu, kita tidak boleh bergaul atau ambil bagian dengan mereka (7). Kita tidak boleh turut melakukan perbuatan mereka, antara lain: percabulan, kecemaran, keserakahan, perkataan kotor, perkataan hampa, perkataan semborono (3-4). Mereka akan dimurkai dan tidak mendapatkan bagian dalam kerajaan Allah (5-6).

Melalui Paulus, Allah begitu tegas menyatakan bahwa hidup orang Kristen sudah seharusnya dalam terang. Tidak bermain-main dengan dosa. Menyebut dosa mereka saja pun sudah memalukan (11-12), apalagi terlibat. Hal itu sangat mendukakan Allah. Jika ada orang Kristen yang menikmati dosa, ia bukanlah manusia baru. Apakah sebagai orang Kristen kita berjuang melawan dosa, atau kita justru sangat menikmatinya?

Doa: Tolong kami hidup sebagai anak terang dan membenci dosa. [MT]

Manusia Lama atau Baru

Siapakah Aku? Manusia Lama atau Baru? Efesus 4:17-32

Alkitab menyatakan dua macam manusia, yaitu manusia lama dan manusia baru. Manusia lama adalah mereka yang tidak mengenal kebenaran Kristus. Manusia baru adalah mereka yang ada dalam Kristus.

Dalam nas ini, diuraikan perbedaan hidup manusia lama dan baru. Hidup manusia lama adalah sebagai berikut: pikiran yang sia-sia, pengertian yang gelap, tidak menyembah Allah, bodoh, keras kepala, perasaan yang tumpul, menuruti nafsunya, serakah, penuh dengan kecemaran, berdusta, pendosa, pemarah, pendendam, dikuasai oleh iblis, pencuri, pemalas, tidak bekerja dengan baik, tidak peduli dengan sesamanya, berkata kotor, mendukakan Roh Kudus Allah, geram, suka bertengkar, dan pemfitnah (17-19, 25-31).

Berbeda dengan manusia baru, hidup mereka diuraikan sebagai berikut: mendengar, mengenal, menerima kebenaran Yesus Kristus (21), menolak perbuatan manusia lama (22), hidup benar dan kudus dalam Yesus Kristus (24), tidak pemarah, tidak berbuat dosa, tidak pendendam, melawan iblis (26-27), tidak mencuri, bekerja dengan baik, bersedekah (28), tidak berkata kotor, tidak berdusta, berhikmat (29), tidak mendukakan Roh Kudus Allah (30), tidak pendendam, tidak geram, tidak pemarah, pendamai, tidak pemfitnah, tidak berbuat jahat (31), peramah, pengasih, pengampun (32).

Manusia baru menerima pembenaran dan pengudusan dalam Yesus Kristus sehingga hidupnya membuahkan kebaikan, kebenaran, dan keadilan. Sedangkan manusia lama menolak Allah dan penebusan Yesus Kristus dan hidup mereka berbuah kejahatan yang membinasakan.

Dengan mengetahui perbedaan hidup manusia lama dan baru, kita dapat bercermin seperti apakah diri kita. Kita mengenal diri sebagai manusia baru atau lama. Di sini hati kita mampu menjawab dengan jujur akan hal tersebut. Hal ini dapat dibuktikan melalui perbuatan kita setiap hari. Manusia baru masih bisa berdosa, tetapi mereka tidak menikmati dosa itu sama sekali.

Doa: Tolong kami hidup sebagai manusia baru sebagai syukur atas anugerah-Mu. [MT]

Kesatuan dalam Jemaat

Kesatuan Karunia Dalam Jemaat
Efesus 4:1-16

Membangun kesatuan dari hal-hal yang sama itu mudah. Namun, membangun kesatuan dari hal-hal yang berbeda-beda sangat sulit. Bagi orang Kristen, itulah tujuan kehadirannya di dunia.

Rasul Paulus yang dipenjara karena Yesus Kristus (1) menasihati agar jemaat Efesus hidup dengan rendah hati, lemah lembut, dan sabar (2). Selain itu, Paulus mendorong supaya jemaat Efesus memelihara kesatuan Roh, yaitu kesatuan tubuh Yesus (3). Kesatuan Roh tidak bisa dipisahkan dengan pengakuan satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa (4-6).

Paulus juga menjelaskan adanya berbagai karunia yang diberikan berdasarkan kehendak Allah dan berfungsi untuk pelayanan dalam jemaat (7). Karunia yang satu tidak bisa dipisahkan dengan karunia lainnya. Semua karunia merupakan satu kesatuan. Tidak ada karunia yang lebih rendah atau pun lebih kecil. Semuanya bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan jemaat. Tuhan sendiri yang memperlengkapi umat-Nya dan memberikan tugas, yaitu memelihara kesatuan jemaat sebagai tubuh-Nya (8-12).

Tuhan memberikan orang-orang dengan jabatan nabi, rasul, gembala, pemberita-pemberita, dan pengajar-pengajar (11) untuk membimbing, dan memperlengkapi umat-Nya (12) agar mereka mengalami pertumbuhan serta pengenalan akan Allah secara dewasa dan mandiri (13), tidak mudah disesatkan (14), dan teguh bertumbuh ke arah Kristus (15-16).

Pertumbuhan jemaat dengan karunia yang berbeda harus berfokus ke arah Kristus, sebagai Tuhan dan Kepala Gereja. Kalau anggota jemaat memiliki pengenalan yang benar tentang Allah, maka tujuan kehadiran gereja di dunia menjadi konkret dalam kesatuan. Gereja yang bersatu menjadi sebuah kesaksian yang sangat berkuasa dan indah di tengah dunia yang saling menjatuhkan dan terpecah-pecah ini.

Doa: Tuhan, mampukan kami untuk membangun jemaat-Mu yang begitu kaya dengan karunia-Mu. [MT]

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai